Cerita Sex Buku Harian Vida


Cerita Sex Buku Harian Vida
Cerita Sex Buku Harian Vida (Part 1)

Cerita ini dimulai saat saya dan pacar saya yang bernama Faris berpisah tempat selama 4 bulan. Karena kami terbiasa dengan kemesraan maka sering sekali tebersit rasa kerinduan yang mendalam diantara kami. Sehingga saat kami sedang butuh belaian satu sama lain akhirnya menjadi sebuah candu yang tak tersalurkan. Akhirnya kami sepakat mencari selingkuhan alias ttm (teman tapi mesra/mesum?). Hingga 3 bulan setelah kami mendapat ttm, akhirnya kami bisa bertemu juga karena Faris akhirnya pulang ke kotanya dan mampir ke kota saya yang agak dekat dari rumahnya yaitu di Bandung

Nama saya Vida, sedangkan selingkuhan yang saya ceritakan ini bernama Ricky. Dia adalah seorang mantan karyawan yang pernah satu tim dengan saya saat bertugas keluar kota. Sebenarnya dia menaruh hati pada saya, tapi saya semula cuek saja, walau akhirnya saya juga merasa kesepian setelah Faris pergi jauh. Akhirnya dia saya manfaatkan untuk saya jadikan pelampiasan saya sekaligus bisa dimanfaatkan (bisa disuruh antar sana sini) hehehehe.

Akhirnya saya bertemu juga dengan pacar saya, Faris. Setelah ngobrol sana sini, karena dia sewa kamar hotel makanya kami bisa berduaan saja dan tidak berada di rumah saya. Mulai dari ngobrol, akhirnya merembet ke acara ciuman dan berakhir dengan bercinta. Memang kami sering bercinta saat dia masih kost di tetangga saya. Bahkan dia juga yang merengut keperawanan saya. Sudah begitu, bukannya cukup eh masih punya angan-angan untuk ‘main’ dengan adik saya yang memang lebih cantik dari saya. Setelah puas menyalurkan nafsu yang sudah lama terpendam, akhirnya kami mulai bercerita tentang pengalaman kami bersama selingkuhan kami masing-masing.

Selingkuhan Faris bernama Mira. Cewek yang agak tinggi dan berbody proporsional. Wajahnya juga sangat manis dan menarik, jujur saja lebih menarik dibanding saya walaupun saya lebih putih. Dia menceritakan bahwa selama berselingkuh dengan Mira, dia pernah bercinta berulang kali dengannya. Juga bahwa dialah yang telah memerawani gadis itu sekaligus membuatnya sebagai gadis yang gila seks. Lebih parah dibanding dengan diri saya.

Saya sendiri mengaku bahwa saya sudah dua kali berhubungan intim dengan Ricky. Pertama saat saya sedang ingin-inginnya dipeluk oleh Faris, namun dia jauh. Lalu saat Ricky sedang mengajak saya jalan-jalan waktu itu. Tak sengaja saya menganggap dia sebagai pacar saya dan mendekapnya erat saat berboncengan sehingga payudara saya pun menempel erat dipunggungnya. Nampaknya dia sudah tidak tahan lagi. Setelah kami makan malam diluar lalu dia menawarkan untuk memperlihatkan kostnya yang baru. Saya setuju saja.

Baru saat kami masuk kamar kostnya yang baru, dia menutup pintu dan menguncinya lalu mendekap saya dari belakang sambil menciumi leher saya. Kedua tangannya pun tak lupa meremas-remas payudara saya. Akhirnya saya tak kuat juga dan membalas ciumannya. Bibir kami berpagutan cukup lama sampai saat dia membuka kemeja lengan pendek saya sampai seluruh kancingnya terlepas, dan terpampanglah payudara saya yang mulus dibalut bra tipis warna pink. Dia lalu mencopoti kemeja dan bra saya.

Akhirnya saya dalam kondisi topless saat kami masih berpagutan mulut. Tangannya kini leluasa meremas toket saya dan memilin-milin puting susu saya hingga mencuat dan mengeras. Desahan mulai keluar dari mulut saya sembari saya membalas remasan tangannya dengan meremas batang kejantanannya yang masih dibalik celana jeans miliknya. Akhirnya basah juga vagina saya akibat rangsangan dari Ricky. Nampaknya dia pun juga terangsang berat saat saya rasakan dari celana jeansnya tersembul benda keras yang pasti itu adalah senjata miliknya. Kemudian sambil menciumi leher saya, dia mendorong saya perlahan kearah tempat tidur lalu memelorotkan celana jeans saya sekaligus celana dalam saya hingga saya telanjang bulat.

Melihat kondisi saya yang sudah bugil total ini membuat Ricky semakin beringas. Dia lalu menciumi toket saya sambil menyedotnya sesekali dan meremasnya. Seluruh bagian tubuh saya digerayangi kedua tangan nakalnya sampai sekitar 10 menitan. Lalu dicopotnya baju dan celana jeansnya. Terakhir cd nya pun dipelorotkan kebawah dan terlihat penis yang menyembul dari gundukan rambut kemaluannya yang lebat.

“Vid, sekarang giliranmu pegangin kontolku dong” Katanya pada saya.

Saya pegang sembari kocokkan perlahan Penis Ricky yang hitam kecoklatan itu. Dia nampak kaget dan bertanya darimana saya dapat mengetahui cara memperlakukan penis dengan benar. Namun dengan jawaban senyuman dari saya dia sudah dapat menyimpulkan sendiri. Akhirnya sambil kami berciuman, kedua tangan Ricky meremas payudara saya sambil sesekali mempermainkan klitoris saya yang membuat vagina saya semakin basah saja dan paha saya dibuat semakin mengangkang secara tak sadar. Sedang tangan saya mempermainkan penis miliknya sehingga basah kuyup.

Baru lima menitan, nampaknya dia sudah tak sabar ingin yang lebih. Akhirnya posisi saya ditelentangkan dan kedua paha saya diangkat dan dilebarkan selebar mungkin hingga bibir vagina saya terlihat terbelah. Lalu mulailah dia menggesek-gesekkan penisnya ke bibir vagina saya yang sudah basah kuyup itu. Cairan kewanitaan saya bercampur dengan cairan kejantanan miliknya. Desahan saya pun bercampur dengan desahan terangsangnya pria selingkuhan saya ini. Akhinya tanpa menunggu lagi dia mulai memasukkan penisnya kedalam liang senggama saya.

Hanya butuh beberapa detik hingga seluruh penisnya masuk kedalam vagina saya. Lalu dia mulai melakukan gerakan memompa naik turun sambil menindih tubuh saya dan menciumi mulut dan leher saya, juga tangannya yang tak henti-hentinya meremas dan mempermainkan kedua payudara saya hingga memerah. Bunyi racauan dari mulut Ricky dan desahan saya berlomba dengan bunyi basah benturan dari kedua alat kelamin kami. Semakin lama semakin menggila saja sodokan-sodokan yang dia lakukan kepada saya. Akhirnya sampai juga dia di titik klimaks.

“Vid, aku keluar...”

Lalu tak selang beberapa lama kemudian dia berejakualasi didalam vagina saya sambil tubuhnya menegang dan mencium saya dalam-dalam. Tusukan terakhirnya terasa begitu dalam dan bertenaga, dan saya rasakan adanya sekitar 5 kali semprotan kuat cairan hangat dari penis yang berada dalam liang vagina saya ini. Ricky ambruk tak bergerak selama satu menit kemudian dia bangkit dan menarik keluar penisnya yang masih menancap di vagina saya. Saat itu pula cairan putih kental mengalir dari liang senggama a saya dan jumlahnya sangat banyak.

Hari-hari setelah bertemu dengan Faris menjadi hari-hari saya yang lebih liar lagi karena saya menjadi lebih dekat dengan Ricky. Entah sudah berapa kali dia datang ke rumah saya dengan pura-pura menjemput saya kerja sambilan tetapi malah mengajak saya berkencan. Salah satu peristiwa yang menarik adalah saat kami berdua bersama dengan dua pasang teman lain yang juga satu tim dalam kerja sambilan ini memutuskan untuk berlibur di Jogja karena kontrak kerja kami sudah selesai bersamaan dengan selesainya event promosi perusahaan tempat kami bekerja lepas ini.

Karena kebetulan lokasi promosi terakhir berada di Jogja maka kami memutuskan untuk bersama-sama menghabiskan malam kami di kota ini yang kebetulan waktu itu sedang ada pameran/ Expo besar-besaran di salah satu tempat di pusat kota. Kami berenam memutuskan untuk menyewa rumah untuk semalam dan berhasil memperolehnya di sebuah guest house di Jogja. Malamnya tentu saja tidak disia-siakan karena bisa menjadi ajang kumpul bareng.

Acara malam itu sekitar jam 9 malam dan Yudi, salah satu pria diantara kami mengeluarkan beberapa botol minuman keras (saya tidak tahu apa namanya). Kami semua ditantang secara halus untuk meminumnya dan supaya lebih mudah bagi para perempuan maka minuman keras tersebut dioplos terlebih dahulu dengan Fanta.

“Baiklah. Permainan malam ini adalah kita bermain kartu. Siapa yang kalah dia harus minum satu gelas. Setuju?” seru Yudi yang kemudian tanpa menunggu persetujuan kami langsung membagi kartu begitu saja.

Dasar memang tidak jago, maka pihak perempuan paling sering kalah dan diantaranya adalah saya. Tak terasa 4 botol minuman sudah tertenggak habis dan keringat mulai membasahi tubuh kami yang mulai panas namun tetap sebagian dingin ini.

“Ugh… udah habis minumannya” Kata Yudi.

“Tapi ini juga baru jam 10 lewat sedikit. Nanggung ah. Lagipula besok-besok kita belum tentu dapat ketemu lagi. Ayo lagi! Tapi taruhan kita ganti. Siapa yang kalah harus buka bajunya satu lembar.” Seru Yudi lagi.

“Hah! Gak mau ah. Malu lah masa tubuh kita dilihatin banyak orang.” Protes Rita salah satu dari kubu cewek.

Tetapi dengan bantuan pacar Rita si Candra akhirnya Yudi berhasil mempengaruhi kami semua. Mungkin juga karena kami sudah setengah mabuk, apalagi yang perempuan sudah setengah teler semua. Bisa ditebak akhir dari semua ini. Dari pihak pria hanya Ricky dan Yudi yang pernah kalah dan itupun hanya sampai membuka kaus mereka saja sementara celana panjang dan lainnya belum tersentuh sementara para perempuan, saya, Rita dan Tya kekasih Yudi harus merelakan kaus kami dan celana panjang kami sehingga tinggal mengenakan pakaian dalam saja.

Dalam kondisi normal jelas kami sangat malu namun karena dalam kondisi mabuk seperti ini membuat rasa malu itu sedikit hilang dari diri kami. Ronde berikutnya Rita pun harus menanggalkan bra miliknya sehingga payudaranya yang bewarna kuning langsat itupun harus terlihat oleh kami berlima dengan sangat jelas. Yang membuat saya heran adalah reaksi Candra yang seolah-olah tidak peduli atas kekasihnya. Entah karena hawa dingin atau karena sesuatu yang lain, puting susu Rita mengeras seperti bentuk puting milik saya ketika terangsang.

Sekitar lima belas menit akhirnya kami benar-benar habis-habisan karena tak ada lagi benang yang melekat pada diri kami sekarang. Tubuh saya sudah telanjang bulat didepan mereka semua begitu juga dengan Rita dan Tya. Sementara itu Yudi dan Ricky masih mengenakan celana dalam. Bahkan Candra bajunya masih utuh semua.

Kebetulan di rumah sewaan itu terdapat televisi yang lumayan modern sehingga Candra dapat memasangkan mini vcd player di tv itu yang kebetulan barusan dia beli waktu akan menyewa rumah ini. Lalu diputarkannya sebuah film yang mengejutkan yaitu film porno yang total tanpa sensor sedikitpun. Saat saya akan meraih pakaian saya tiba-tiba Candra merenggut tumpukkan pakaian kami dan menguncinya didalam kamar.

“Sesuai dengan hukuman, maka yang terhukum gak boleh mengenakan pakaiannya sampai film ini selesai. Hehehe… Sekalian buat lihat sampai seperti apa ketahanan kalian.” Kata Candra yang kemudian mendekap Rita yang sedang duduk di karpet dari belakang dan kemudian menciumi tubuh gadis manis ini.

Walaupun Rita mencoba mengelak tetapi Candra bukan tipe orang yang mudah menyerah begitu saja. Dalam sekejap mereka berdua sudah berciuman dahsyat dan Rita seolah tak peduli dirinya sedang bugil dan membiarkan payudaranya menjadi permainan tangan Candra dan disaksikan oleh orang banyak. Tak lama kemudian adegan porno di vcd itu berubah menjadi lebih liar. Disana digambarkan adegan empat orang gadis sedang digilir beramai-ramai oleh puluhan pria berbadan besar.

“Aaakhhh...” Desah saya ketika merasakan buah dada saya mulai disentuh oleh Ricky.

Lelaki ini meremas-remas payudara saya dengan perlahan dan mulutnya menjulur kedada saya untuk menjilati dan menhisap puting susu saya.

“Ricky… aakhh…” saya kini hanya bisa mendesah-desah pasrah ketika pria ini mempermainkan seluruh tubuh saya dengan remasan, pilinan, ciuman dan jilatannya yang membuat saya seolah terbang kelangit ketujuh.

“Ooohh…” sekali lagi desahan tetapi bukan dari bibir saya melainkan dari mulut Tya yang saat ini sedang disetubuhi oleh Yudi. Tya yang bertubuh sedikit tinggi dari saya namun kulitnya putih ini sedang telentang dan ditindih tubuh Yudi yang sudah telanjang. Penis Yudi dengan liarnya menjajah seluruh relung vagina Tya.

“Kita join ya? Hehehe…” kata Ricky sambil mengajak saya mendekati kedua orang yang sedang bercinta itu. Lalu Ricky merebahkan saya disamping Tya yang tubuhnya terguncang-guncang akibat pompaan Yudi yang sudah mulai cepat itu.

“Vida… Sekarang kita ngentot lagi ya… heheheh...” Seloroh Ricky yang kemudian memasukkan penisnya yang cukup besar itu kedalam vagina saya yang sudah mulai basah.

“Wah toketnya Vida putih juga yah seperti orangnya.” Goda Yudi yang kemudian merapatkan tubuhnya ketubuh terlentang Tya itu.

Ricky sendiri tak butuh waktu lama untuk memasukkan penisnya kedalam vagina saya yang memang sudah tidak perawan lagi, bahkan semua gadis di ruangan itu tak ada yang masih perawan.

“Crok… crok… crok…” suara vagina saya yang sedang digenjot Ricky ini bercampur dengan suara dari pasangan lainnya.

Yudi sesekali seolah tak sengaja menyentuhkan siku tangannya ke payudara saya. Ricky melihatnya dan terlihat tak peduli dan masih asyik memompa penisnya kedalam vagina saya yang sudah mulai basah ini. Tiga menit kemudian, kembali Yudi menyentuhkan siku tangannya ke payudara saya tetapi kali ini didiamkan lama disana dan seperti disengaja menumpangkan sikunya di atas salah satu toket saya itu, seperti mendapatkan lampu hijau, tepat ketika Ricky maupun Yudi mempercepat goyangannya kepada saya dan Tya, tangan Yudi berani meremas toket saya dan mempermainkan putingnya tanpa ragu lagi. Jujur saja hal ini membuat saya menjadi sedikit risih tetapi sensasinya membuat saya sangat terangsang dengan hebatnya.

Ricky yang melihat Yudi lancang menjarah toket saya itu lalu membalas dengan mencium bibir Tya dan meremas payudaranya yang besar itu. Herannya, Tya spontan membalas ciuman Ricky tanpa malu-malu lagi. Yang membuat saya heran lagi enah kenapa saya dan Tya seolah menurut saja dan ikut menggoyangkan pinggul kami saat penis-penis para pria ini menjarahi vagina kami berdua tanpa malu-malu.

“Aaakhh… memeknya Vida sempit banget.” Seru Ricky yang kemudian langsung ditimpali oleh Yudi,

“Memangnya sempitan mana sama punya Tya? Aku cobain yah?” kata Yudi yang kemudian mencabut penisnya dari vagina Tya.

Saya terkejut karena kemudian Ricky mencabut penisnya dari vagina saya dan mengarahkan penisnya itu kemulut saya untuk saya oral. Sementara itu dia diam saja ketika Yudi mengarahkan batang penisnya kearah bibir kemaluan saya dan memompanya dengan penuh nafsu. Tya sendiri entah sejak kapan, sekarang sudah dalam tindihan Candra yang menggila dengan sodokan-sodokan kerasnya dan Yudi juga tidak protes padahal dia dan Tya sudah pacaran 2 tahun lamanya.

“Wah benar-benar nikmat vaginanya Vida. Sempitnya sama dengan punya Tya. Akhh… yess…..akhhh… Vida kamu cantik banget kalau pas dientotin gini. Aaakhh… Vida…” desah Yudi sambil menikmati penisnya yang memblender seluruh isi vagina saya yang kembali membuat saya orgasme entah untuk yang keberapa kalinya malam itu.

Candra pun ikut-ikutan dengan meremas-remas toket saya tanpa ampun. Tubuh saya-pun dibuat dalam posisi merangkak kemudian lagi-lagi penis Yudi menyodok vagina saya tanpa ampun.

“Aaakhh… sakit… pelan…” entah kenapa yang dalam pikiran saya hanyalah rasa sakit karena sodokan keras itu dan bukan rasa malu atau terhina.

Bibir saya pun tak bisa banyak mendesah karena tersumpal penis Ricky yang terus minta diservis tanpa henti. Tangan Candra juga tak segan-segan lagi meremasi kedua bukit kembar saya yang menggantung bebas saat dalam posisi doggy style ini padahal dia sedang ngentotin Tya waktu itu.

“Aaakhh… aku keluar… aakhhh… Vidaaa…” pekik Yudi yang kemudian melesakkan penisnya dalam-dalam dan berejakulasi didalam vagina saya.

Sperma Yudi saya rasakan menyemprot dinding-dinding dalam vagina saya sehingga terasa hangat. Tak lama setelah Yudi mencabut penisnya, Candra langsung ambil posisi dan mengentot saya dari belakang dengan posisi doggy style yang sama.

“Wow! Sama sempitnya dengan punya pacarmu Yud. Seandainya toketmu sebesar punya Tya pasti aku bakalan tergila-gila sama kamu Vid.” Godanya kepada saya.

Ingin saya protes dan berontak tapi nafsu saya juga sudah tak terbendung dan kepalang basah. Ricky pun juga lebih suka memikirkan pemuasan nafsunya dengan mulut saya dibandingkan dengan memikirkan martabat saya.

“Aaakhh… aakhhh… Candra… akhh… pelan…” kata saya tergagap setelah merasakan pompaan penisnya semakin kencang dan brutal saja.

“Vaginamu terlalu menggoda buat penisku Vid. Sorry kalau terlalu cepat. Aakh… nih… aku kasih… aaakhhh…!” seru Candra yang lalu menyodokkan penisnya sekencang-kencangnya ke vagina saya dengan brutal. Satu sodokan yang keras sampai membuat bibir luar vagina saya ikut melesak masuk terkena gesekan penisnya. Sekali lagi saya orgasme.

“Vidaaa… aku keluar… aakhhhh…” seru Candra yang kemudian mengejang.

Sekali lagi saya merasakan penis seorang pria menyemprotkan spermanya didalam liang kemaluan saya. Sekarang sudah sperma dari dua orang yang saya yakin kemudian bakalan menjadi tiga orang.

Yang saya yakini itu ternyata benar-benar terjadi, karena giliran berikutnya adalah Ricky. Tak butuh waktu lama baginya untuk berejakulasi didalam kemaluan saya.

“Bagaimana Vid? kontol siapa yang lebih enak buat ngentotin kamu?” goda Ricky yang kemudian menyemprotkan spermanya berulang-ulang didalam vagina saya.

Malam itu ketiga pria ini menggilir saya dan Tya karena ternyata Rita sedang keputihan sehingga bebas dari gangguan, itu juga penyebab Candra beralih untuk menyetubuhi Tya dan saya.

Paginya saya melihat Tya masih tidur di kasur yang diletakkan diatas lantai berkarpet. Berselimutkan sprei yang acak-acakkan dan dari vaginanya terlihat cairan sperma yang sudah mengering. Saya ingat bahwa Tya semalam dikerjai habis-habisan juga hingga nyaris pingsan. Mungkin 6 kali para pria itu berejakulasi didalam vaginanya.

Saya melihat tubuh saya. Payudara saya yang putih mulus ini sekarang sudah tertutup cairan putih kental hasil oral seks saya kepada Candra. Sementara itu dari bibir vagina saya masih mengalir sedikit sperma yang sudah tidak lagi kental. Yudi menyetubuhi saya lagi pagi ini saat saya belum bangun. Hal itu juga yang membangunkan saya setelah merasakan vagina saya seperti disodok oleh benda keras panjang yang ternyata adalah penisnya Yudi. Saya ingat kalau semalam saya digilir berulang-ulang sampai sekitar 7 kali. Bukan hanya pantat dan buah dada saya yang jadi sasaran tembakan sperma mereka tetapi juga punggung dan wajah. Masih saya rasakan rasa asin sperma Yudi yang nyaris tertelan oleh saya.

Setelah kejadian di guest house itu, anehnya Tya malah bertambah rekat dengan Yudi sementara Candra dan Rita malah putus. Saya?... Ricky tidak terdengar kabar beritanya selama 2 bulan penuh. Ternyata dia sudah menghindari saya karena malu tubuh saya sudah dicicipi oleh dua teman baiknya. Pria munafik, tetapi tak apalah karena Faris menerima saya dengan apa adanya. Lagipula pacar saya itu juga sering tidur dengan wanita lain tetapi tetap saja dia tak mau menambatkan hatinya pada para perempuan itu dan tetap menjadikan saya kekasihnya.

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.